Maknai Pentingnya Hablumminannas

Sangat terkesan sekali membaca catatan di dinding teman yang bertuliskan “Seharusnya bukan Mustahik yang mencari Muzaki, tapi Muzaki yang mencari Mustahik”. Membacanya seakan mendapat gamparan keras di pipi saya.

Mari kita tengok dan akui apa yang terjadi pada kehidupan hablumminannas kita sekarang ini. Disaat pekerjaan dan pendapatan semakin sulit tidak jarang teman, tetangga ataupun saudara kita yang morat-marit membendung pahit getirnya kehidupan ekonomi. Itu semua tentunya bukan kemauan mereka. Yang mereka mau tentunya berkecukupan sehingga bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhannya. Tanya saja bahkan pada orang yang sangat malas sekalipun yang ada dilingkungan Anda, mereka pasti ingin cukup dan mandiri. Hanya saja Allah belum mendatangkan waktunya kepada mereka.

Disinilah kita seharusnya lebih peka. Allah bukan tanpa alasan menciptakan kelebihan dan kekurangan. Ada yang pintar, ada yang bodoh, ada yang kaya ada yang miskin atau ada yang soleh dan ada juga yang murtad. Jika kita lebih mengasah keimanan dan keikhsanan kita, kita pasti tau kenapa.

Allah menciptakan si pintar untuk mengajari si bodoh, si bodoh diciptakan agar punya keimanan yang kuat untuk selalu berusaha dan mau belajar. Begitu juga dengan si kaya dan si soleh, mereka dihadirkan bukan untuk menikmati dan asyik sendiri tapi untuk lebih tawadhu dan mau menopang si miskin serta membimbing si murtad. Si miskin dan si murtad pun diberi kesempatan istimewa untuk lebih mendekatkan diri kepada Nya dengan banyak berdoa, bersabar dan ikhlas.

Coba tanya pada diri Anda sendiri, seberapa sering kita mencari orang-orang yang membutuhkan untuk kita dermakan rezeki berupa materi ataupun bantuan lainnya selain dibulan Ramadhan ?

Padahal jika kita mau lebih peka,sangat banyak orang-orang dilingkungan kita yang memerlukan dan sedang mencari bantuan.

Kita tidak akan menjadi miskin dengan berbagi secara rutin kepada mereka. Hilangkanlah prasangka buruk bahwa terus menerus membantu hanya akan membuat mereka malas dan keenakan.

Yakinlah, Allah maha mengetahui segala urusan perbuatan dan hati manusia.

Seharusnya bukan yang butuh pertolongan yang mencari yang ingin menolong, tapi yang ingin menolong yang mencari yang butuh pertolongan.

Itulah ukhuwah yang dicontohkan Nabi kepada para sahabatnya, dimana ketika seorang sahabat memberikan makanan ataupun uang kepada sahabatnya yang memerlukan maka makanan atau uang itu terus berputar ke beberapa sahabat lainnya hingga kembali kepada orang yang pertama yang memberikan makanan ataupun uang tersebut.

Hal itu terjadi karena rasa ukhuwah yang kuat diantara para sahabat Nabi. Mereka merasa bahwa masih ada yang memerlukan bantuan selain mereka, walaupun mereka sendiri kekurangan. Ukuwah itu begitu kuat sehingga Muzaki-Muzaki yang ada pada masa itu bukan saja datang dari golongan orang-orang yang berkecukupan saja. Mereka yang sama-sama kekurangan selalu memeikirkan orang-orang yang lebih kekurangan dari mereka. Merekalah para Muzaki yang sesungguhnya.

Indah sekali andai rasa ukhuwah yang demikian dapat kita contoh dan terapkan di kehidupan kita saat ini, lalu mewariskannya kepada anak-anak kita untuk kehidupan mereka nanti dan kehidupan setelah mereka.

INGAT..seharusnya bukan yang butuh pertolongan yang mencari yang ingin menolong, tapi yang ingin menolong yang mencari yang butuh pertolongan.

Si penerima tidak meminta dan si pemberi tidak menunggu.

Subhanallah…bimbing kami Ya Rabb…

 

 

 

Categories: Moeslem Corner | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.